Kali ini aku hanya ingin berbicara tentangmu. Tentang sejuknya wajahmu. Tentang lembutnya belaianmu. Tentang hangatnya pelukanmu. Kau sangat berharga, tak ternilai, tak terganti.
Kau bangun saat mataku masih terlelap. Di sepertiga malam kau melirih pada-Nya. Menyebut namaku berkali-kali. Agar secercah kebaikan hinggap padaku.
Kala pagi datang, dengan wajah yang masih menyimpan lelah kau menanak nasi, mencuci baju, menyiapkan sarapan, mencuci piring-piring berlemak, membersihkan rumah dari debu-debu. Kau bekerja tanpa digaji, tapi tak sedikit pun keluh ada di bibirmu. Kau tangis dan tawaku, tak bisa digadai materi.
Saat senja tiba, dengan bintik peluh di rautmu, kau sajikan makan malam, melipat dan menyetrika baju, merapikan sesuatu yang berserak. Kau, orang terakhir yang memejamkan mata.
Walau kiranya kudatangkan emas bergunung-gunung, takkan bisa mengganti walau hanya sebesar kerikil dari kebaikanmu atau hanya setitik dari peluhmu.
Walau kiranya kuhadiahkan rumah nan mewah, mobil yang mahal, atau permata berlian, tak akan setara dengan kelelahanmu merawatku, atau sedetik yang kau perjuangkan saat melahirkanku.
Tak ada yang mencintai sedalam cintamu, dan tak ada yang menyayangi setulus kasih sayangmu.
Pengorbananmu tak terhitung, perhatianmu tak bisa dirangkai dengan kata. Kau segalanya.
Rasa syukurku pada-Nya atas kehadiranmu.
