Sadarkah kita, salah satu hal yang sangat kita cari adalah keberkahan hidup. Karena kita berharap dengan apa yang telah diperoleh bisa mendatangkan kebajikan. Untuk apa menumpuk harta atau materi, memiliki usia panjang, ilmu yang tinggi, bahkan amal-amal yang banyak, tapi tidak mendapat keberkahan.
Tanda Hilangnya Berkah
Dalam KBBI atau Kamus Besar Bahasa Indonesia, berkah diartikan sebagai: karunia Tuhan yang mendatangkan kebaikan bagi kehidupan manusia.
Jika merujuk ke kamus Al-Munawwir berkah diterjemahkan sebagai nikmat. Sedang Imam al-Ghazali mengatakan dalam Ensiklopedia Tasawuf, berkah ialah bertambah-nya kebaikan.
Secara gamblangnya, setiap kali kita mendapat rezeki, maka rezeki itu semakin menambah kebaikan dalam hidup. Itulah yang dinamakan berkah.
Tahukah kita, ada sesuatu yang bisa menghilangkan dan menghapus keberkahan. Perbuatan yang wajib kita jauhi dan hindari.
Faktor utama yang bisa melenyapkan keberkahan adalah maksiat. Yah, perbuatan yang senantiasa dilakukan setiap hatinya. Apabila mendapat harta, hartanya lenyap entah ke mana. Tak tahu dibelanjakan untuk apa. Seakan kayu kering yang dilahap api, lalu abunya ditiup angin yang tidak menyisakan apa pun.
Memiliki umur yang panjang, tapi tidak membuahkan apa-apa. Tidak menghasilkan apa-apa. Hidupnya hanya begitu-begitu saja. Bahkan condong kepada hal-hal tidak berguna. Bila berilmu, ilmunya tidak membawa manfaat. Susah untuk mengamalkannya bahkan tidak bisa mengamalkannya. Dan tak mampu pula menyebarkannya.
Bila beramal kebaikan atau melakukan ibadah, amalnya tidak berpengaruh padanya. Tidak pada hatinya, pada ruhaninya, ataupun pada perilaku. Seakan hanya melakukan amal itu sia-sia tanpa membuahkan kegunaan apa pun. Itulah tanda-tanda hilangnya berkah dalam hidup.
Berkata Ibnul Qayyim al-Jauziyah, maksiat adalah faktor utama yang menghilangkan berkah umur, rezeki, ilmu, serta amal. Setiap waktu yang digunakan untuk maksiat kepada Sang Pencipta, setiap harta, fisik, kedudukan, ilmu, amal yang digunakan untuk maksiat, sebenarnya bukan milikmu. Umur, harta, ketaatan, kedudukan, yang menjadi milikmu adalah yang digunakan dalam ketaatan pada Sang Pencipta.
Apa yang kita gunakan dalam ketaatan, itulah milik kita. Dan tanda berkahnya apa yang dimiliki adalah semakin bertambah kebaikan dalam diri.
Dianjurkan bagi kita untuk menjauhi segala jenis maksiat agar tidak menghilangkan berkah, baik pada harta, umur, ilmu maupun amalan-amalan. Yuk, memperbaiki diri demi mendapat keberkahan. Semoga apa yang kita miliki menuntun pada kebaikan. Sekian. Semoga bermanfaat.
Sumber: Mutiara Hikmah Pembangun Jiwa. 2010. Akhmad Muhaimin Azzet. Jogjakarta: Darul Hikmah
