Hari ini hari yang paling istimewa baginya. Hari yang ditunggu-tunggu. Hari sakral untuk bertemu dengan sang kekasih. Hari ini adalah hari pernikahannya.
Akad telah terikrar. Janji suci saling mengikat dua insan yang jatuh cinta sudah berpilin ke langit. Matahari tenggelam, malam pun datang.
Pemuda itu menghabiskan detik demi detik dari malam yang gelap bersama kekasihnya hingga fajar menjelma. Dan saat itu tiba, tak ada yang tahu apa yang akan terjadi berikutnya. Pagi menjelang, panggilan juang tengah berkumandang.
Meletuslah Perang Uhud. Pemuda itu pun bangkit dari kasurnya. Walau hanya semalam bertemu dan berpadu dengan bidadarinya, panggilan cinta untuk berjuang di medan laga lebih menarik hatinya.
Dia berangkat meninggalkan sang kekasih. Padahal, pernikahannya baru berumur satu malam. Saat itu, dia bahkan belum bersuci.
***
Awalnya, kemenangan berada di pihak kaum muslimin. Namun sayang, saat regu pemanah meninggalkan tempat jaga, keadaan pun berbalik arah. Mereka terdesak. Tapi, pemuda itu tak gentar. Dia merangsek maju dengan gagah berani. Menerobos tanpa bimbang dan takut.
Dia tebas kaki kuda lawan hingga membuat penunggangnya terlempar ke tanah. Sayangnya, tanpa disadarinya rekan sang lawan ikut membantu, menghunjamkan setangkai tombak ke tubuhnya.
Seketika dia terkulai. Seolah-olah seluruh tenaganya diambil paksa dan tungkainya tak mampu lagi menahan bobotnya. Sosok tangguh itu terjerembah.
***
Setelah pertempuran usai. Para pejuang yang masih tersisa mencari sahabat-sahabat yang gugur. Dan di antara yang gugur itu adalah sang pemuda pengantin satu malam.
Namun, mereka terheran melihat apa yang terjadi pada sang pemuda. Dari ujung rambut menetes air yang membuat dahinya basah. Hati mereka pun bertanya-tanya, apa yang menyebabkan hal demikian?
Lalu seseorang berkata kepada mereka, mengungkap dan menjawab segala tanya,
"Aku melihat para malaikat memandikan Hanzhalah bin Abu Amir di antara langit dan bumi dengan embun di dalam bejana-bejana perak." (Hr. Baihaqi)
Yah, pemuda itu bernama Hanzhalah bin Abu Amir. Dan seseorang itu tidak lain adalah Rasulullah.
Dialah Hanzhalah yang lebih memilih-Nya daripada pelukan kekasihnya. Lebih memilih bertemu dengan-Nya daripada bersama pujaan hatinya. Dialah pemuda yang memiliki sebesar-besarnya cinta pada Sang Pencipta.
Walau belum bersuci, dia tetap pergi memenuhi panggilan-Nya, hingga akhirnya dia disucikan oleh para malaikat yang memandikannya.
Semoga kita bisa mengambil hikmah dari kisah pemuda ini. Sekian. Semoga bermanfaat.
