5 Cara Menyucikan Hati Agar Hidup Menuai Bahagia - Ruang Moera

Selasa, 23 Agustus 2022

5 Cara Menyucikan Hati Agar Hidup Menuai Bahagia

  


jalan indah, jembatan, pemandangan cantik

Setangkai bunga yang segar akan layu dan gugur jika tak disiram. Begitu pula manusia, bila tak mendapat asupan rohani, maka batinnya juga tak akan berfungsi.

Orang-orang mengira dengan menuruti segala keinginan dan kemauan akalnya, dia akan bahagia: jalan-jalan ke luar negeri, mendatangi tempat yang indah, berbelanja sepuasnya, mengoleksi benda, menumpuk kekayaan, dan sebagainya.

Namun, kendati melakukan hal-hal demikian masih banyak orang yang belum menuai bahagia. Masih saja gelisah. Yah, tentu bahagia tak akan diperoleh jika jiwa gersang dan kemarau. Jika batin sudah kehilangan asupan, dan telah kering dari nilai spiritual.
Ada 5 hal mudah yang bisa menyucikan jiwa agar bisa memperoleh bahagia, tanpa harus membayar mahal, atau membeli tiket berjuta-juta untuk ke luar negeri. Obatnya sangat murah dan gampang dilakukan bagi orang-orang yang ingin hidup bahagia.


5 Cara Menyucikan Hati


Berkata Abu Sa'id al-Khudri, jika ingin memperoleh kebahagiaan lakukanlah lima hal ini,

1. Senantiasa membaca Alquran

Membaca surat-surat cinta-Nya akan mendatangkan ketenangan. Karena Dia sudah menjanjikannya. Maka, bawalah mushaf ke mana pun melangkah. Sertakan dia ke mana pun beranjak. Masukan ke dalam tas, atau letakan di dalam mobil. Baca saat sedang menunggu lampu merah atau saat hati sedang gelisah. Tak ada obat yang paling mujarab saat didera gelisah kecuali kalam-kalam cinta-Nya.

Jangan menunggu waktu luang untuk membacanya, tapi luangkanlah waktu. Sucikanlah jiwa dengan membacanya, raihlah kedamaian. Niscaya bahagia akan hadir.

2. Mengosongkan perut dengan berpuasa

Salah satu cara mengisi asupan rohani adalah dengan berpuasa. Karena puasa akan mengingatkan betapa nikmatnya saat makanan masuk ke dalam perut. Itu akan mengajarkan rasa syukur. Bukankah di luar sana banyak orang yang tak bisa makan walau hanya sesuap nasi?

Puasa juga sebagai benteng dari maksiat. Orang-orang yang berpuasa akan menahan dirinya dari berbuat dosa, karena takut membatalkan puasanya. Orang yang sering melakukan puasa akan bersih jiwanya dan akan bertambah taatnya.

3. Mendirikan salat malam

Adalah kebahagiaan bagi orang-orang yang mampu mendirikan salat malam. Karena saat itu dia mendapat waktu yang paling baik dan istimewa untuk menghadap kepada Sang Pencipta. Dia dijanjikan dengan terkabulnya doa apabila meminta. Dan kedudukannya akan diangkat serta termasuk ke dalam orang-orang yang mulia. Ketenangan dalam hidup, kedamaian jiwa, serta kebahagiaan telah dijanjikan padanya.

4. Bergaul dengan orang yang taat beragama

Seringkali orang mengatakan, berteman dengan penjual minyak wangi akan mendapat aroma harumnya. Sedang berteman dengan pandai besi akan mendapat panas dan baunya. Memang elok nian analogi tersebut.

Sekiranya mau berkumpul dengan orang-orang saleh, pasti jua akan mendapatkan hikmah-hikmah dari mereka. Apabila lalai, ada yang mengingatkan. Apabila jauh ada yang membawa kembali. Mereka ibarat lentera penerang jalan. Ibarat cahaya dalam kegelapan. Ibarat bintang dalam pekatnya malam.

Bila berteman dengan orang-orang yang tak baik perangainya, niscaya hilanglah ketenangan hidup. Sukarlah mendapat kebahagiaan, karena hati tak disiram dengan kebaikan, tapi sebaliknya. Maka berkumpulah dengan orang-orang saleh. Dengan orang-orang yang dekat dengan agama, ambillah hikmah, dapatkan nasehat dan petiklah bahagia.

5. Tidak makan dari sumber yang tidak halal

Hati-hatilah pada hal yang satu ini, karena banyak orang yang menganggap remeh. Padahal, makanan yang tidak halal bisa mendatangkan keresahan dan kesusahan.

Syahdan, terkisahlah seorang laki-laki yang sedang kesulitan di padang pasir lalu dia menengadahkan tangan ke langit dan meminta kepada Sang Pencipta. Sayangnya doanya terhijab atau terhalang, karena dia telah makan makanan yang tidak halal. Baju atau pakaian yang dia kenakan juga diperoleh dengan cara yang tidak halal.

Maka, periksalah apa yang ada pada diri, jangan-jangan hilangnya kebahagiaan di dalam rumah karena rezeki-rezeki datang dengan cara yang dilarang. Jika demikian, raiblah semua kebahagiaan hidup.

Demikian pesan-pesan dari Abu Sa'id al-Khudri. Semoga menjadi nasehat bagi kita semua agar senantiasa memberi asupan pada rohani. Sehingga tetap segar dan hidup layaknya bunga mawar yang mampu menebar semerbak wanginya.


Sumber:

Mutiara Hikmah Pembangun Jiwa. 2010. Akhmad Muhaimin Azzet. Jogjakarta: Darul Hikmah

Share with your friends

Give us your opinion