Apa kamu tahu Zaid bin Tsabit? Di usia 10 tahun ingin ikut berjuang bersama Rasulullah. Apa kamu mengenal Usamah bin Zaid? Di usia 19 tahun sudah menjadi panglima. Apa kamu mendengar nama Mus'ab bin Umair? Banyak pemuda-pemuda masuk Islam karena dakwahnya.
Mereka, sosok-sosok pemuda yang telah menorehkan tinta emas dalam sejarah. Berkontribusi terhadap agama walau masih belia. Lalu kita? Apa yang sudah kita berikan untuk agama ini? Untuk din ini? Jangankan agama, untuk orang tua, kakak, adik, paman, bibi, sahabat, lingkungan, pun ... kita belum berbuat apa-apa.
Bagaimana agar kita mampu berkontribusi untuk agama maupun orang-orang terdekat kita?
Caranya, mari lejitkan potensi diri. Optimalkan segala kemampuan dan kerahkan semua fasilitas yang Allah berikan. Lalu, bagaimana caranya?
1. Berpikir positif
Hal utama yang harus ditanamkan dalam diri adalah, pemikiran positif. Why? Tentu saja ini sangat penting. Karena akan berpengaruh pada produktivitas maupun aktivitas dalam sehari-hari. Semua hal yang di awali dengan pemikiran yang positif, insyaa allah, akan menghasilkan positif jua.
2. Memanfaatkan kesempatan
Kesempatan tidak datang dua kali, tapi berkali-kali. Apa kamu sepakat?
Yuuup, kamu harus memanfaatkan setiap kesempatan yang datang; waktu, tenaga, usia muda, itu adalah kesempatan. Apa kamu tidak iri dengan Zaid bin Tsabit?
Hiduplah di setiap momen, seakan-akan itu kesempatan terbaikmu. Jelilah dalam melihat kesempatan, dan manfaatkan! Jangan sia-siakan hartamu (kesempatan)!
3. Kemauan keras
Setelah kamu memiliki rasa optimisme yang tinggi, dan menjumpai kesempatan, maka kamu wajib memiliki tekad yang kuat dan luar biasa, agar apa yang kamu inginkan berwujud nyata. Bangkitlah dari zona malas. Sungguh, malas itu tidak ada harganya. Dan tidak ada yang bisa mengobatinya selain dirimu.
Kamu tentu tau bagaimana perjuangan Muhammad Al Fatih menaklukkan konstantinopel, kan? Atau bagaimana perjalanan Imam Bukhori mengumpulkan hadits? Adakah mereka berleha-leha? Mereka berdarah-darah, kawan...
Milikilah kemauan keras. Tanpa usaha yang maksimal, kamu tak akan mampu bangkit dari kegagalan.
4. Fleksibel
Bersifat fleksibel? Maksudnya?
Dalam kamus kompetensi;
Fleksibilitas; kemampuan untuk beradaptasi dan bekerja efektif dalam situasi yang berbeda, dan dengan individu maupun kelompok
Kamu mengerti kan? Ini soal attitude. Bagaimana kamu membawa diri. Bagaimana kamu bersikap. Apa kamu melihat orang-orang yang hancur reputasinya karena sikapnya yang salah? Tentu pernah bukan?
Maka kamu harus mampu beradaptasi layaknya bunglon yang senantiasa berubah warna. Menyesuaikan tempat. Walaupun berubah-ubah dia tetap bunglon. Dan begitu pun kamu.
5. Berani mengambil resiko.
Setelah kamu mendapatkan empat hal sebelumnya, tapi tak berani mengambil resiko? Semuanya hanya sia-sia. Yah, sia-sia ... karena tak ada satu pun pilihan di dunia ini yang tak memiliki resiko, bahkan cinta sekalipun.
Jangan pernah lari dari kegagalan. Kamu ingat kisah nabi Yunus, kan? Dia mendapat teguran dari Allah, karena meninggalkan kaumnya.
Jika kamu gagal, jangan lari, tapi hadapi. Ingatlah kisah nabi Nuh. Berdakwah 950 tahun, namun hanya segelintir yang mau mengikutinya.
Lihatlah proses, bukan hasil. Karena kupu-kupu yang indah, berasal dari kepompong. Kadang ... kau harus menempuh badai, untuk bisa melihat pelangi.
Sekian. Semoga bermanfaat!
