Ketika Manusia Menjadi Seonggok Daging yang Lalai - Ruang Moera

Rabu, 24 Agustus 2022

Ketika Manusia Menjadi Seonggok Daging yang Lalai

  uang, manusia, dollar, gila-uang



Di sebuah perusahaan, ada seorang karyawan yang rajin. Dia sangat disiplin dalam bekerja. Melakukan semua kewajibannya dengan baik. Tidak pernah terlambat, selalu datang tepat waktu.

Suatu ketika, sang bos yang baik hati memberi uang 100 juta sebagai bonus atas kinerjanya tersebut. Tentu saja sang karyawan amat bahagia dan berbunga-bunga. Semakin tunduk dan patuhlah dia dengan segala arahan sang bos. Bahkan dia mau melakukan apa saja keinginan sang bos sekiranya memang diminta seperti itu.

Memanglah sebuah kewajaran, jika seseorang memberikan sesuatu yang bernilai dan berharga kepada kita, lalu timbul perasaan sungkan, tunduk, patuh, dan hormat kepadanya.

Sayangnya, ini hanya terjadi antar sesama manusia saja, tapi tidak kepada Sang Pencipta. Jika mau merenung, sungguh sangat banyak yang telah diberikan-Nya kepada kita.

Tidak perlu jauh-jauh, coba tengok organ tubuh ini. Kira-kira, jika dinominalkan dengan uang berapakah harga yang pantas? Tentu tak terhitung.

Dua bola mata yang bisa melihat. Dua telinga yang bisa mendengar. Dua tangan yang bisa bergerak. Dua kaki yang bisa melangkah. Belum lagi organ dalam: ada paru-paru, jantung, hati, limpa, dan berbagai macam bagian hingga ke bentuk yang paling kecil.

Sanggupkah kita menghitung berapa banyak nikmat dan pemberian itu? Coba tanyakan kepada para dokter, berapakah harga satu ginjal? Atau dua bola mata?

Sekiranya ada uang satu miliar, apakah kita mau menukar dengan dua bola mata itu? Atau ditukar dengan sepasang kaki? Apakah uang sebanyak itu bisa mengganti penglihatan yang hilang? Apa kita mau menjadi buta? Atau tanpas sepasang kaki dan menghabiskan umur duduk di kursi roda?

Sekiranya Dia putuskan satu saja urat syaraf di otak, itu cukup membuat kedua mata tak berfungsi. Atau Dia buat kaki tersandung lalu patah, atau Dia jadikan denyut jantung melambat, apakah kita bisa hidup normal?

Jika demikian, mengapa kita tak taat dan patuh pada-Nya?

Apakah kita sudah menjadi manusia yang tak tahu balas budi? Atau kita telah mengalami penyakit lupa?

Mari merenung sejenak. semoga bermanfaat!

Share with your friends

Give us your opinion